Jumat, 18 Maret 2016

Perempuan yang tak peka & lelaki yang tak pernah menyerah


Seperti kuas dan kanvas...
Seperti mendaki; harus saling menguatkan dan mengutamakan..
Taken pict by rockytopsportsworld.com
Peristiwa perjumpaan antara perempuan yang tak peka dengan lelaki yang tak pernah menyerah adalah sebuah kenyataan. Nyata terjadi dalam kehidupan ini. 

Ia perempuan yang pandai menyembunyikan rasa atau kadang sebaliknya; pandai membiarkan dengan begitu tega lelaki yang ‘merasa’ kepadanya. Bukan hidupnya yang terlampau begitu lurus-lurus saja. Ia terbilang perempuan yang cakap, ramah, mudah bergaul, berkarakter, tegas, dan cerdas pula. Bukan hidupnya yang lurus, tetapi ia hanya menjaga izzah dan iffahnya sebagai muslimah. 

Ia lelaki yang pantang menyerah. Berjuang bukan hanya sehari tetapi dalam hitungan jam, hari, bulan, bahkan tahun. Berjuang dengan caranya yang tetap menjaga perempuannya sebagaimana mestinya. Ia tipe pekerja keras; terbukti entah berapa kali perempuan tak pernah merespon, tak pernah merasa, dan tak pernah-tak  pernah lainnya kepada lelaki. Ia (lelaki) tak pernah menyerah.
Ah seharusnya perempuan yang lebih merasa tetapi ini justru sebaliknya. Tetapi salahkah? Tidak. Tidak ada yang salah dengan perasaan. Perasaan mengalir begitu saja tanpa bisa dipaksakan. Perempuan itu hanya perlu kau tuntun bukan hanya sekedar pengharapan.

Pertemuan perempuan yang tak peka dan lelaki yang tak pernah menyerah… Ini adalah kenyataan. Ini adalah perjalanan hidup yang membahagiakan dan menggembirakan. Karena pasti akan banyak keajaiban dan keindahan yang tak terduga setelahnya.

Saling belajar. Saling sabar. Saling mengerti. Saling memahami. Saling mengisi. Saling melengkapi. Dan saling-saling yang lainnya.

Karena ia perempuan yang tak peka dan ia lelaki yang tak pernah menyerah; percayalah semua begitu indah. Indah, karena kalian akan melewati masa-masa bersama penuh dengan hal-hal yang tak terduga yang akan membuat kalian selalu ingin bersama. Berbagi suka juga duka. Berbagi canda juga tawa.

--Cinta adalah mempersatukan perbedaan dan menjadikannya indah. Satu sisi menjadi kuas yang memberi warna dan satu sisi menjadi kanvas yang diberi warna. Hasilnya; lukisan indah yang tak terduga. 

*tulisan ini terinsprasi dari buku Azhar Nurun Ala “Cinta adalah Perlawanan”.

Yogyakarta, 18 Maret 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar