SELAKSA MIMPI SEORANG PUSTAKAWAN
Taken pict by Google |
Jam dua siang, langit Jogja biru terang. Matahari yang sedikit condong ke
barat bagai memijarkan lidah-lidah api dipetala langit. Hawa panas menjajah
angkasa, mencengkram apa saja yang menantang pijar alam. Tak ayal seorang
mahasiswi pascasarjana yang sedang mengayuh sepeda juga menjadi sasaran
lidah-lidah api di petala langit. Namun, angin siang masih memberikan
semilirnya meskipun sang surya amat sangat garang siang itu. Berkibar-kibar
kerudung merah yang ia kenakan tertiup oleh semilir angin. Dengan semangat ia
kayuh sepedanya. Terlihat perjuangannya siang itu hingga butiran-butiran bening
mengucur dari dahinya. Ia sapu butiran-butiran bening itu dengan punggung
tangan kirinya di sela-sela ia mengayuh sepeda. Tapi tiada sedikitpun keluhan
yang keluar dari mulut mungilnya. Ia menjalaninya dengan senang hati.
“Wah mana ni mbak sambel pecel dari Blitar hehe,” sapa seorang mahasiswi S1
Jurusan Ilmu Perpustakaan ‘Anis’ namanya. Ketika ia tiba di parkiran di depan
pascasarjana.
“Wani piro nih hehe makanya
mampir ke kost mbak” ia jawab candaan adik kelasnya di kampus itu.
“Gratis loh mbak untuk adik yang unyu-unyu satu ini hehe” jawab Anis.
“Yo wes, gratis tapi ada
syaratnya,” jawab ia sambil mengambil map dari keranjang sepedanya. “Apa Mbak?”
tanya Anis sambil merangkul tangan Aisyah yang ia panggil mbak itu.
“Nginep dulu di kost mbak, ada proyek buat kamu dek hehe” jawab Aisyah.
“Iiiih mbak, oke deh ntar selesai kuliah Anis ke kost mbak” jawabnya
sembari melirik dan menaikkan alis matanya ke arah Aisyah. Aisyah hanya
tersenyum.
“Mbak, Anis masuk kelas dulu ya” sergah Anis sembari melepaskan rangkulannya.
“Iya, kuliahnya bener-bener loh
hehe”.
“Oke bos” jawab Anis.
Anis menuju fakultasnya yang bersebelahan dengan pascasarjana, tempat
Aisyah melanjutkan studi S2 Ilmu Perpustakaan. Bersamaan juga segera Aisyah bergegas ke pascasarjana.
***
Jam setengah enam, Aisyah pulang ke kost dengan mengendarai sepedanya. Sesampainya
di kost ia segera mandi dan shalat maghrib. Seperti rutinitas biasanya, ia habiskan waktu setelah maghrib
untuk membaca wirid hadad dan membaca
al-Qur’an sampai senandung adzan Isya’ berkumandang.
Setelah itu ia gunakan waktu untuk makan dan belajar hingga larut. Ia memang
sering begadang karena bergelut dengan tugas-tugasnya. Tak pernah sedetikpun ia
buang sia-sia waktunya untuk hal yang tak berguna.
Jarum jam tepat di angka sebelas, ia hempaskan tubuhnya di atas kasur, di sana juga ada Anis yang sudah
terlelap melanglangbuana ke alam mimpi. “Mungkin Anis lelah, karena saya suruh
ia membuat desain perpustakaan” batin Aisyah. Ia memang sering memberi tugas yang
berhubungan dengan perpustakaan kepada Anis. Ia ingin mengajarkan kerja keras
kepada Anis. Tapi Aisyah tak pernah menerima tugasnya yang dikerjakan Anis
secara cuma-cuma, ia akan memberi imbalan kepada Anis, agar kemampuan Anis
semakin terasah, apalagi Anis juga aktif di organisasi ALUS (Library and
Information Science Student Assosiation) di kampus sehingga banyak pengalaman yang ia dapat.
Aisyah merilekskan tubuhnya yang terasa amat kelelahan hari ini, ia tatap
langit-langit kamarnya lekat-lekat. Ia bayangkan lagi 100 impiannya. Ia alihkan
pandangannya, menatap tajam ke arah peta impian yang ia tempel di dinding
kamar. Ia tatap tajam tulisan “Membangun perpustakaan digital di desa tercinta”
mimpinya ke nomer sekian dari 100
mimpinya. Ada kalimat MAN JADDA WA
JADA juga di atas tulisan 100 impiannya itu. Ada rasa terenyuh di hatinya. Ia
benar-benar merindukan kampung halamannya. Ingin segera ia pulang untuk membagi
ilmunya. Entahlah 2 bulan lagi waktu yang cukup lama baginya. Tiba-tiba dada terasa sesak, mata terasa sembab dan tes...tes...buliran
bening itu menghujani pipi. Ia miringkan tubuhnya membelakangi Anis dan
membiarkan tangis mengantar malamnya kali ini ke alam mimpi.
***
Pukul setengah empat Aisyah memang sudah bangun, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu’ kemudian
shalat tahajud. Ketika sujud terakhir, ia biarkan berlama-lama. Ia kuatkan azzam di sujud terakhir di sepertiga malam di Qiyamul lail kali ini, “Yaa Allaah, izinkanlah diri ini membangun
desa tercinta menjadikan masyarakatnya cinta akan membaca.” Usai shalat dan berdo’a ia lanjutkan memurojaah
hafalan al Qur’an sampai waktu subuh tiba. Sayup-sayup terdengar suara adzan
dari masjid Safinaturrahma dekat kost, bergegas ia bangunkan Anis untuk shalat subuh. Mereka shalat subuh berjamaah, setelah itu membaca wirid latif dan tilawah bersama.
Minggu pagi yang sangat cerah, agenda hari ini ke Malioboro sekedar mencari
oleh-oleh untuk di bawa ke Blitar.
“Mbak, Anis temenin ya” Anis meminta.
“Boleh, kita naik Trans Jogja aja ya dek”.
“Ok, Mbak”
Meraka melanglangbuana ke Malioboro sampai waktu dzuhur
dan menunaikan shalat dzuhur di kost, kemudian Aisyah langsung on the way ke stasiun karena kereta api di Stasiun Tugu. Berangkat jam tiga tepat menuju Blitar.
“Hati-hati Mbak” tegas Anis ketika saya turun dari becak dayung.
“Iya, Dek”.
Anis mengantar Aisyah ke
stasiun dengan menaiki becak dayung. Memang sudah menjadi agenda
Aisyah bolak-balik
Jogja-Blitar. Selain kuliah S2 Ilmu Perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga Jogja ia juga bekerja di UPT Perpustakaan Nasional Proklamator Bung Karno di Kota Blitar. Di
Blitar ia tinggal di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)
putri Al Mawaddah yang jaraknya sekitar 1 jam atau 20 km menuju UPT Perpustakaan
Nasional Proklamator Bung Karno. Ia menjadi pustakawan di Perpustakaan Bung Karno di bagian koleksi khusus dan
juga diamanahi mengurus perpustakaan pondok Gontor Putri oleh kyai. Ia habiskan waktu selama 6 hari (minggu-jumat) untuk
bekerja serta mondok dan 1
hari di Jogja (sabtu) untuk kuliah.
Tak terasa lima jam sudah
ia berada di kereta api, melihat jam di ponsel sudah menunjukkan
pukul sepuluh malam tepat. Ia tiba di kota Blitar. Dengan segera ia naik taxi menuju pondok.
***
Tak terasa dua bulan yang
ditunggu-tunggu terlampaui
juga. Tepat pada 25 Agustus 2013 Aisyah akan wisuda S2 Imu Perpustakaan. Terbayang di benaknya “Aisyah Al Hamra, MIp.” itu dia Master
Ilmu Perpustakaan. Gelar yang akan ia usung ke desa tercinta untuk membangun impian yang selama ini tertoreh di
peta impian. Bukan sembarang gelar tapi banyak tanggung jawab di sana.
Ketika wisuda berlangsung, Aisyah benar-benar terenyuh dan tak menyangka, karena bisa menyabet predikat sebagai mahasiswa
terbaik dengan IPK tertinggi (Camlaude).
Ia tatap dua bidadarinya dari
kejauhan (Bapak dan Ibu) mereka tersenyum bangga. Mereka naik ke atas panggung, dan mereka peluk anaknya. “Kami bangga, Nduk,” ucap Bapak.
***
Aisyah tinggalkan Jogja yang penuh kenangan dan yang
menjadi saksi perjuangannya. Ia
tinggalkan kota Blitar yang
mengajarkan banyak hal. Sudah saatnya ia kembali ke kampung halaman. Ia pamit kepada semua kyai, ustadz,
ustadzah, dan santriwati yang di pondok. Ia pamit kepada
para dosen di UIN Sunan Kalijaga Jogja tak lupa para teman-teman. Dan ia tinggalkan pekerjaannya di UPT Perpustakaan Nasional Proklamator
Bung Karno. Sudah saatnya ia harus kembali ke desa dan membangun impiannya di sana.
Banyak yang berbeda ketika ia menjejakkan kaki di desa tercinta. Enam tahun ditinggalkan, membuat banyak perubahan yang tak
terduga.
Ketika hendak menuju rumah ia melewati perpustakaan, hanya mengernyitkan dahi. “Kenapa perpustakaannya tidak berubah?” Tanyanya dalam hati. Tetap seperti dulu, kecil dan kurang menarik. Hati ini
semakin terenyuh.
Kebetulan, pulang ke desa tercinta ia langsung bisa menjadi pustakawan di kantor Bupati. Karena bantuan
teman-teman di ALUS. Yah, 6 tahun ia bergelut di organisasi ALUS. Ia sangat bersyukur kepada Rabb. Banyak pelajaran dan pengalaman yang tak terduga
ketika ia berada di ALUS.
Beberapa minggu ia di desa tercinta. Lurah desa memintanya menangani
perpustakaan desa. Yah, memang itulah tujuannya. Salah satu impiannya. Membangun desa tercinta dengan otomasi
perpustakaannya yang canggih. Ia ingat peta impian itu.
من جد و جد
“Membangun
perpustakaan digital di desa tercinta”
|
Itulah salah satu impian yang tertoreh di peta impian ketika ia thalabul ‘ilmi di Jogja.
Dalam mewujudkan impian itu, ia merangkul warga sekitar untuk juga saling
bahu-membahu. Bekerja sama
membangun desa tercinta. Bahkan DIadakan seminar tentang “Perpustakaan Modern” dengan harapan masyarakat bisa memahami
perpustakaan yang sebenarnya. Dan kebetulan ia sendiri motivatornya/pematerinya.
***
Lambat laun perpustakaan digital mulai dirintis, dibantu masyarakat. Bersama-sama membangun gedung perpustakaan 2 lantai, didekorasi dengan indahnya taman di sekeliling
gedung. Ada pepohonan, beragam bunga dan kursi-kursi dan meja yang mengelilingi
setiap pohon. Ia pagari
sekitar taman perpustakaan itu. Yah, temanya disini adalah “Taman Perpustakaan” artinya perpustakaannya berada di alam
terbuka. Dengan buku-buku berada di gedung dan ruang baca berada di taman. Ini
dilakukan supaya pembaca tidak jenuh
dan bosan terus-menerus berada di ruangan ketika membaca. Perpustakaan didesain dengan cara yang
lain yakni dengan tempatnya di alam terbuka. Tak lupa pula, pelayanannya juga
sudah digital. Bahkan para staf yang bertugas juga benar-benar dari bidang
perpustakaan. Selama 1 tahun merintis perpustakaan itu. Dan kini perpustakaan itu masyhur dengan julukkan “Taman Perpustakaan
Aisyah Al-Hamra”. Yah, ada namanya di sana, Aisyah Al-Hamra.
***
Bermimpilah, karena ketika kita punya mimpi. Setidaknya tiada waktu kita
yang terbuang sedkitpun untuk hal-hal yang sia-sia.
Bermimpilah, karena ketika kita punya mimpi. Berarti ketika memiliki tujuan
dan dengan tujuan itu kita menjadi bersemangat dan pantang menyerah dalam
mewujudkannya. Meski harus jatuh bangun sekalipun.
Bermimpilah, bermimpilah yang muluk!!
Karena Allaah kita Maha Tinggi. Dia menghendaki segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Bermimpilah, karena orang sukses mempunyai banyak mimpi hingga ia bisa
mewujudkan satu persatu. Tiada orang sukses yang dulunya tak punya impian.
Yang pasti mantra saya:
من جد و جد
Dan 100 impian sudah tertoreh jelas di peta impian. Tak lupa pula target
jangka panjang dan jangka pendek.
Jika kita YAKIN kita BISA! PASTI BISA!!!
Jogja, 26 September 2013
Komentar
Posting Komentar