Sabtu, 21 Maret 2015

Jodoh dan Tayangan Televisi..






Ekspresi kegelisahan....
Sumber : Google

Sebagai pembuka sebuah kegelisahan dan kegundahan-gulanaan, aku ingin berkata “Memilih jodoh saja bijak, apalagi memilih tayangan televisi”.  Mungkin kalimat ini amat sangat menggelitik. Lho iya, kok bisa jodoh dikaitkan dengan televisi? Maksudnya dapat jodoh melalui televisi gitu? Tentu saja bukan itu jawabannya.

Wahai para penggemar tayangan televisi… Menonton bukan sekedar untuk hiburan. Pemaknaannya lebih dalam lagi dari itu. Menonton pada dasarnya adalah salah satu sarana untuk mendapatkan informasi. Maka sudah sepatutnya tayangan di televisi menayangkan hal-hal yang dikatakan sebagai ‘informasi’. Menghibur? Bolehlah, asal tetap mengutamakan sisi informasi dan sisi edukatifnya. Yah, sebagai salah satu warga negara yang turut menonton televisi, nuraniku kadang berontak dengan sebagian tayangan. Sebagian tayangan yang bisa dikatakan kurang edukatif, kurang informatif, kurang inspiratif, bullying, pornografi, violence, dan terkadang bias gender juga.

Selain beberapa hal diatas, kini ranah pertelevisian Indonesia juga dimasuki unsur politik. Ya, seperti yang kita ketahui. Keberpihakan tayangan televisi itu sangat tampak saat pemilu presiden 2014 lalu. Dimana sebagian politikus saling mencitrakan diri melalui media masing-masing. Tentu saja ini sudah keluar dari jalur pertelevisian yang harusnya menyediakan informasi se-valid mungkin dan tidak ada unsur keberpihakan. 

Selain itu, jam tayang yang kurang tepat juga menjadi salah satu faktor hilangnya eksistensi pertelevisian tanah air. Dimana bukan lagi sisi ‘informatif’ dan ‘edukatif’ yang diutamakan melainkan ‘menghibur’ itu yang menjadi tujuan. Sehingga sisi kualitas sudah dinomer sekiankan. Jika hanya berisi hiburan yang tidak ada manfaatnya dan terkesan tidak bisa dipahami apa maksud dari tayangannya, bisa dibayangkan sendiri mau jadi apa dan bagaimana masyarakat pengkonsumsi tayangan televisi kita?

Sumber : Google
Hal ini pada dasarnya merupakan pembodohan moral yang mungkin belum disadari sebagian para pengkonsumsi informasi via televisi.  Dan yang lebih dikhawatirkan lagi adalah dari kalangan anak-anak. Tentu saja tidak semua anak paham mana yang layak ditonton dan mana yang tidak layak ditonton. Maka anak-anak perlu didampingi dalam menonton tayangan televisi. Orang tua yang pastinya harus berperan aktif dalam mendampingi. Beri batasan jam menonton anak. Juga biasakan untuk tidak menonton televisi saat waktu maghrib tiba. Kanapa? Karena tayangan anak menjelang maghrib tentu saja sangat menarik perhatian anak-anak. Maka orang tua harus mampu membiasakan untuk tidak menonton di waktu maghrib. Ajak anak untuk mengisi waktu tersebut dengan beribadah dan belajar.

Selain anak-anak, orang dewasa juga perlu melakukan tindakan pemilihan tayangan yang ditonton. Tahu kapan saatnya menonton dan kapan saatnya mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat. 

Yah, begitulah secuil pendapat tentang wajah pertelevisian di tanah air tercinta. Memang rasanya tak mungkin untuk menghentikan sebagian tayangan-tayangan televisi yang tidak baik untuk ditonton. Namun langkah lain yang bisa dilakukan adalah menjadi penonton yang bijak. Tidak semua tayangan itu layak ditonton, maka harus dipilah dulu. Filtering ini sangat penting demi tidak rusaknya moral dan akhlaq masyarakat terutama para generasi muda Indonesia. Mau dibawa kemana tanah air tercinta jika para generasi anak bangsa sudah rusak dan hancur moralnya?

Bijaklah dalam memilah tayangan televisi supaya mendapatkan informasi yang berkualitas. Ini kan sama dengan memilih jodoh. Kalau ditanah Jawa dilihat dari bibit, bebet, dan bobotya (Tahu dari dosen sih hehe). Nah, memilih tayangan televisi juga begitu, harus diperhatikan sisi edukatif-nya, infornatif-nya, inspiratif-nya, dan juga menghibur. Terus, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Ini sama dengan tontonan yang kita lihat adalah cerminan kepribadian diri kita. 

Semakin berkualitas tayangan televisi yang kita tonton maka semakin berkualitas juga kepribadian diri kita. 

Ya, ini hanya secuil ungkapan kegundah gulana-an nuraniku yang sering berontak melihat sebagian tayangan televisi di tanah air. Berharap pemerintah khususnya KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) bisa bekerja sama dalam men-filter tayangan televisi. Dan lebih tegas dalam sensor serta keputusan tayang tidaknya tayangan televisi. Ini sudah mulai berjalan. Semoga semakin baik kedepannya.

Sumber : Google


Ingat, jadilah penonton yang bijak. 

#IDKS


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar