Senin, 18 Mei 2015

Jalabiyah Putih dari Yaman

--Secuil cinta pemberian dari Sang Maha Cinta 
Sumber : Mr. Google

Seperti biasa, di waktu sore Bilqis mengajar santriwati kelas dua Tsanawiyah belajar bahasa Arab. Ia mengajar santriwatinya dengan penuh semangat. Bahkan kerap kali mengajak santriwati untuk belajar di taman pesantren yang begitu indah. Taman dipenuhi dengan pepohonan yang menyejukkan, dipenuhi bangku-bangku taman yang panjang, juga kolam ikan serta pancuran air disekitarnya. Tentu keindahannya membuat santri maupun santriwati sangat senang dan betah belajar atau mengahafal di taman. Tak terkecuali Bilqis, ustadzah muda yang menjadi ustadzah asrama dan mengajar di kelas. Ia juga sangat senang jika mengajar santri-santrinya di taman. 

Kali ini Bilqis mengajar pelajaran nahwu tentang na’at (sifat). Ia menjelaskan bahwa na’at adalah lafadz atau kata yang menunjukkan sifat pada isim sebelumnya, dan isim yang disifati tersebut dinamakan man'ut. Na’at man’ut itu ada dua, na’at man’ut dari isim ma’rifah dan na’at man’ut dari isim nakirah. Bilqis menjelaskan secara singkat namun mengena pada semua lini na’at dan man’ut yang dibahas. 

Usai memberi penjelasan Bilqis meminta santriwati untuk memberi contoh dari keduanya.

“Ustadzah, beri contohnya dulu dong. Satu saja dari setiap keduanya.” Pinta seorang santriwati.


        “Baiklah, Aisyah.” Sahut Bilqis tersenyum sembari membenarkan letak kacamata berframe hitamnya.

Bilqis menulis dua kalimat di white board. Dan sesekali kerudung merah mudanya berkibar dihembus angin sore yang menyejukkan seantero pesantren beriringan dengan murattal yang terdengar dari corong masjid Aulad (Jamak dari ‘walad’ yang berarti anak laki-laki; sebutan untuk santri putra).

“Oke kita baca bersama ya.” Tegas Bilqis.

Semua santriwati yang duduk dibangku taman setengah lingkaran fokus menatap white board. Sebagai point of view

Annisaa-u as shaalihaat.” Semua serempak.

“Ada yang tau artinya?” Tanya Bilqis.

“Saya ustadzah, artinya perempuan-perempuan yang shalihah itu.”

MumtazahAlfun untuk Nadhira.” Santriwati yang lain bertepuk tangan.

Bilqis memang terbiasa memuji santriwati yang bisa menjawab. Seperti memberi nilai alfun (seratus). Karena Bilqis merasa bahwa mengajari anak remaja tidak sama dengan mengajari anak dewasa. Sebagai pangajar remaja, tentu harus sabar dan bisa menjadi teman bagi mereka. Masa remaja adalah masa dimana anak-anak mulai megalami perubahan atau dalam bahasa biologinya disebut puber. Maka sudah barang tentu remaja harus selalu didampingi dalam melewati tahap demi tahap masa remajanya.

“Nah, yang kita baca tadi itu adalah contoh na’at man’ut dari isim ma’rifah.”

“Berarti kalimat yang kedua itu contoh na’at man’ut dari isim nakirah ya, Ustadzah?”

“Masya Allah, iya betul sekali Fatimah. Alfun..” Bilqis tersenyum.

Sebelum membaca kalimat kedua, mata Bilqis dihadapkan pada sosok yang tengah berjalan diseberang jalan tepat didepan kantor ’Aliyah. Tiba-tiba hati Bilqis berdegub. Detak jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Sosok mengenakan Jalabiyah putih dan berpeci itu berjalan bersampingan bersama Buya (Pimpinan pesantren). Bilqis termangu beberapa detik. Ia juga heran dengan dirinya yang begitu kaget melihat pemuda yang tak dikenalnya itu.

“Ustadzah….” Panggil santriwatinya serempak. 

“Oh iya… Ayo kita baca kalimat yang kedua.” Gugup Bilqis. Namun kegugupan itu hanya dia dan Tuhannya yang tahu.

Nisaa-un Shaalihaatun.” Ucap semua santriwati lagi-lagi dengan serempak.

Usai mengajar Bilqis ke kantor ‘Aliyah. Sekedar mengambil buku tugas santriwati kelas enam (setara kelas 3 SMA). Bilqis merupakan lulusan Matematika di Universitas ternama di Yogyakarta. Namun setelah lulus, ia lebih memilih kembali mengabdi di pesantren tempat ia menimba ilmu. Di pesantren ia tidak hanya mengajar matematika tetapi juga mengajar bahasa Arab, Balaghah, dan Fiqh. Sudah setahun lamanya ia mengabdi. Selain mendapat gelar sarjana, ia juga mendapat gelar “ustadzah muda” dari para santri yang pada akhirnya menyebar ke penjuru pesantren. Memang harus diakui, Bilqis adalah ustadzah paling muda dan belum menikah. Sosok yang bertubuh mungil, dengan mata bulat dibalik kacamatanya. Jika tersenyum maka akan tercipta lesung pipi yang amat manis dikedua pipinya. Ditambah kulitnya yang putih bersih, hal ini memancarkan aura tersendiri disamping keshalehan dan keramahannya.

Bilqis menuju asrama Banat (Jamak dari ‘Bintu’ berarti anak perempuan; panggilan untuk santri putri) dengan membawa tumpukan buku tugas santrinya. Bilqis terus berjalan. Berjalan tegak lurus kedepan tanpa menoleh kanan dan kiri. 

Innaa lillaah..” Pekiknya saat hampir saja terjatuh karena tersandung akar pohon kelengkeng di dekat masjid Banat. Memang tak membuat dirinya jatuh, akan tetapi buku tugas yang bertumpuk itu yang jatuh berantakan.

Bilqis segera memunguti buku-buku yang berserakan.

Hai tangan siapa itu. Jeritnya dalam hati sembari mendongakkan wajah ke pemilik tangan itu.

“Lain kali hati-hati ustadzah Bilqis.” Ucap pemuda itu sembari memberikan tumpukan buku pada Bilqis.

Bilqis kaget. Bagaimana dia tahu namaku. Nuraninya berbisik. Bilqis masih terdiam. Pemuda itu tersenyum dan bergegas pergi. Ada rasa gugup menyelinap di hati Bilqis. Namun disisi lain hatinya berbunga-bunga bak bunga di taman syurga. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tak berkesudahan setelah pemuda itu tak tampak lagi.

Astaghfirullah, zina hati, Qis.” Tegurnya pada dirinya sendiri. Syukur tak ada santri yang lewat, kalau tidak bisa jadi perkara besar tadi. Batin Bilqis.

Tapi Bilqis benar-benar heran dengan pemuda yang tak dikenalnya itu. Meski begitu, hati Bilqis menjadi penasaran. Apakah ini yang namanya pucuk dicinta ulam pun tiba, bisiknya lirih. Ia nyengir sendiri. Ah kenapa kau ini, Qis. Ledeknya pada dirinya sendiri. Entahlah, mungkin ini suatu kebetulan, kebetulan yang menyenangkan. Bisik Bilqis. Namun pada dasarnya tetap saja ini adalah rencana-Nya.
***
Sudah tiga hari lamanya Bilqis dibuat sedikit penasaran dengan pemuda itu. Namun ia tetap tenang saja.  Ia akan lupa begitu saja dengan pemuda itu jika tak dilihatnya. Namun ketika tiba-tiba bertemu hatinya menjadi penasaran. Maka untuk menghindari itu, Bilqis lebih banyak di asrama saat tidak mengajar.

Ba’da shalat isya’ berjamaah bersama seluruh santriwati. Bilqis dapat panggilan dari buya untuk segera ke rumah beliau bersama umi Rabi’ah (ustadzah ketua asrama Banat). Rumah buya masih dilingkungan pesantren dan terletak di bagian paling depan pesantren. Karena memang semua pengurus pesantren tinggal di komplek pesantren yang dikelilingi tembok tinggi. Sehingga terpisah dengan masyarakat sekitar. 

Kali ini seperti biasa, Bilqis yang sudah sering menghadap buya merasa tidak khawatir dengan suatu hal. Mungkin masalah santri, pikirnya.

Bilqis tiba di ruang tamu rumah buya. Tampak disana buya, ustadz Mahmud (menantu buya sekaligus kepala ‘Aliyah), dan beberapa ustadz dan umi yang lainnya. Namun yang membuat ia kaget bukan kepalang adalah pemuda yang mengenakan Jalabiyah putih serta berpeci itu, duduk disamping buya. Oh jadi ustadz baru. Batin Bilqis.

Semua sudah berkumpul. Buya memulai pembicaraan. Mengenalkan pemuda itu kepada segenap yang hadir. Namanya Muhammad Ghiyats Fawwaz, santri Gontor yang melajutkan menuntut ilmu di Jami’ah Al-Ahgaff, Yaman. Dan kini mengabdi di pesantren dimana Bilqis berada.

Setelah perkenalan usai. Buya juga menjelaskan tentang Bilqis kepada Fawwaz. Namun kenapa hanya Bilqis saja yang diperkenalkan, ustadz dan ustdazah yang lain kenapa tidak. Bilqis hanya terus menyimak saja rencana buya.

Hah!!! Jerit hatinya yang kali ini benar-benar tertohok dan kaget bukan main. Bagaimana mungkin buya menjodohkan Fawwaz dengan Bilqis. Tapi sekali lagi, hatinya bahagia. Siapa yang tidak bahagia jika dijodohkan dengan pemuda shaleh, sederhana, dan berwibawa seperti Fawwaz. Nurani Bilqis mulai menerima. Ini lah rembulanku, batinnya. 

Diskusi yang cukup panjang antara buya, ustadz, dan ustadzah perkara perjodohan ini. Sedang Fawwaz dan Bilqis diam tak bergeming. Suatu ketika, kedua bola mata mereka bertatapan. Ini kali pertama mereka berpandangan tanpa disengaja. Namun keduanya cepat-cepat menunduk, memandang lantai keramik bermotif bunga berwarna krim. Yaa Allah jika memang begini takdirku, aku sangat ikhlas dan ridha, sungguh Yaa Allah. Harap Bilqis yang masih terus menunduk malu menatap lantai. Sedangkan Fawwaz tertunduk sembari membenarkan letak kacamata yang juga berframe hitam, sama seperti Bilqis.

Setelah diskusi panjang. Akhirnya dengan menyebut nama Allah Yang ar-Rahman dan ar-Rahim, Fawwaz dan Bilqis berjodoh. Segera esoknya ijab qabul pun di gelar. Seantero pesantren mendadak lebih ramai dari biasanya karena acara bahagia Fawwaz dan Bilqis. Buya sengaja menggelar repsepsi Fawwaz dan Bilqis di pesantren. Kemudian setelahnya baru menggelar resepsi di kediaman Fawwaz di Ponorgo, Jawa Timur sedangkan Bilqis di Aceh. Bilqis santriwati emas pesantren dan kemudian menjadi ustadzah di pesantren tempat ia belajar dahulu. Sedangkan Fawwaz juga santri emas Gontor, yang melanjutkan study ke Jami’ah Al-Ahgaff, Yaman kemudian di ajak buya mengurus pesantren dimana Bilqis berada.

“Ingat tidak sayang?” Ucap Fawwaz yang duduk disamping Bilqis di pelaminan.

“Apa?” Jawab Bilqis yang sejurus kemudian berpaling ke arah Fawwaz.

“Kita pernah bertemu.”

“Ah, masa?” Bilqis tak percaya.

“Iya, saat sama-sama tes beasiswa Al-Ahgaff, Yaman di pesantren ini.”

“Yang benar. Tapi kenapa Bilqis enggak lihat abang ya.”

“Gimana mau lihat, Bilqis aja tunduk terus ke bumi.” Fawwaz tertawa kecil.

“Iya kah.” Bilqis juga tertawa kecil.

“Bilqis waktu itu pakai baju ungu bahkan jilbab dan rok juga berwarna ungu.”

“Iya betul sih. Tapi abang yang mana ya? Duduk dimana waktu itu?”

“Abang duduk dibelakang, pakai sarung, baju koko dan peci.”

“Kayaknya semua juga gitu, Bang. Bilqis benar-benar enggak perhatiin abang waktu itu.” Bilqis menjawab apa adanya, dengan tersenyum.

“Iya tidak papa. Waktu itu abang sendiri yang dari pulau Jawa. Karena kawan abang yang lain sudah ikut tes yang di Jawa. Cuma abang yang ke Sumatra.”

“Hemmm.. Lalu, Bang?”

“Lalu ketemu jodoh hehe.” Fawwaz tertawa kecil.

“Maksudnya?” Bilqis heran.

“Ya, abang waktu itu sempat tanya nama Bilqis ke teman sesama ujian, tapi ia juga tidak tahu. Tapi enggak tahunya sekarang bertemu dengan sendirinya.”

“Hemmm gitu.. Tuh kan, Bang. Jodoh tak kan kemana.” Balqis tersenyum.

Mereka mengobrol dengan penuh canda tawa. Pertemuan singkat empat tahun silam ternyata berbuah manis. Meski Bilqis tidak menyadari bahwa Fawwaz merupakan salah satu dari penerima beasiswa itu. 

Bilqis yang serius menuntut ilmu itu yakin, bahwa semua akan indah pada waktunya. Hingga ia hanya fokus pada study dan pengabdiannya. Selama ini ia jaga fitrahnya akan cinta dengan baik dan tak disangka-sangka penantian panjangnya berbuah manis, ia ditautkan dengan jodoh yang awalnya pernah bertemu.

Allah memang Maha Adil. Ia selalu mengingatkan hamba-hamba-Nya, Sibukanlah dirimu dengan terus men-shalehkan diri maka kau juga akan berjodoh dengan dia yang terus men-shalehkan diri. Seperti cermin, bagaimana dirimu begitu pula lah jodohmu. Dan kelak jodohmu adalah pakaianmu, dan kamu adalah pakaiannya. 

Bilqis teringat celotehnya kepada salah seorang sahabat saat dulu menjadi santri. “Cinta yang halal dan diridhai Allah itu jauh lebih berkah dan indah.” Ucapannya dulu kini benar-benar dialaminya. Bukan lagi bayangan semata.

“Fokuslah dulu dengan study… Nikmati masa bersama kawan.. Sibukkan diri tingkatkan prestasi.. Buat Ayah dan Ibu bangga serta bahagia… Buat guru-guru, ustadz dan ustadzah bangga… Banyak-banyaklah berbagi ilmu dan inspirasi pada sekitar… Kini waktunya untuk menanam, kelak saatnya masa panen tiba. Semoga Berjaya seperti Fawwaz dan Bilqis, Aamiin..”


--Salam Hangat 
Ditemani suara denting jarum jam; dan suara percikan air yang jatuh ke dalam bak menimbulkan bunyi yang begitu indah; kemudian diakhiri dengan lantunan indah Murattal Syaikh Faht Al-Kandery surat Ar-Rahman.. :D

 [15.13] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

19 Mei 2015, Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar