Sabtu, 30 April 2016

Lelaki Idaman itu; Ku panggil ia ‘My Prince’

Taken Pict by abiummi.com
Semakin jauh jarak yang memisahkanku dengannya membuat aku semakin banyak menyadari  bahwa cintanya benar-benar tulus. Dengan segala kasih dan sayangnya yang selalu tercurah membuat aku terharu saat merinduinya. Apalah daya ketika jarak menjadi raja antara aku dengannya. 

Wahai lelaki idamanku, aku bahagia terlahir sebagai putri kecilmu dan entah harus bagaimana aku berterimakasih atas semua yang telah kau berikan dan lakukan untukku. Aku sadar sekali, apa pun yang kulakukan takkan bisa menggenapkan baktiku kepadamu tapi aku selalu berusaha untuk selalu membahagiakanmu.


Lelaki idamanku yang kupanggil dengan sebutan My Prince, kau adalah sosok Ayah yang sangat luar biasa.  Sejak aku terlahir ke dunia dari rahim seorang wanita berhati mulia yang ku panggil Ibu, kau sudah menimangku. Aku tau, saat itu bahkan hingga detik ini pun kau sangat bahagia atas kehadiranku. Dan dengan kehadiranku, kau semakin banyak bekerja keras agar aku selalu merasa bahagia.

Saat usiaku kanak-kanak, kau mengajariku naik sepeda. Denganmu, aku bebas menembus batas ketakutanku. Dengan kesabaranmu, akhirnya bisa naik sepeda  meski entah sudah berapa kali aku terjatuh dari sepeda merahku itu. Ya, aku bisa karena kau selalu meyakinkanku bahwa aku bisa. Aku tertawa kegirangan, kau peluk aku dalam dekap hangatmu.

Beranjak remaja, dengan tegas kau mengantarkanku menuntut ilmu di sebuah pesantren yang jauh dari rumah. Saat itu tekadku bulat ingin menjadi santri. Dengan segala upayamu Ayah, aku sekolah di pesantren modern. Saat itu hanya kau seorang yang mengantarku berjihad dengan penaku. Ada embun di bola matamu saat akan meninggalkanku di pesantren dan tahukah kau aku juga terharu dengan semua nasehat yang kau tuturkan Ayah. Kutahan tangisku yang hendak tumpah, aku tak ingin tampak cengeng dihadapanmu. Dengan besar hati aku coba tetap tersenyum. Saat itu aku terus menatap kepergianmu hingga hilang diujung gerbang pesantren. Saat itu aku benar-benar pilu namun untuk membahagianmu saat itu adalah dengan belajar sungguh-sungguh di pesantren. Hitungan tahun, akhirnya aku diwisuda. Namaku dipanggil dan toga itu pun digeser. Aku bahagia kau dengan wanita berhati mulia yang kusebut Ibu hadir dalam wisudaku. Kado terindah yang kuberi adalah hasil dari belajar selama hitungan tahun di pesantren dimana dengan prestasi yang kudapat serta pengabdianku kepada pesantren. Kulihat binar-binar kebahagian dari bola matamu. Apa yang sudah kuraih dan membuat semua orang bangga adalah hasil dari perjuanganmu juga Ayah. Ketahuilah, putrid kecilmu bisa tumbuh menjadi santriwati yang baik itu tentu juga karenamu.

Beranjak semakin dewasa, sayap kecilku mengepak semakin lebar dan terbang semakin jauh. Kini bukan hanya berbeda dari Aceh dan Medan tetapi berbeda pulau. Dengan sayap kecilku, aku melanglangbuana ke kota pelajar. Kali ini, kulihat embun begitu menggumpal di bola mata Ayah dan Ibu. Kali ini pelukanmu semakin dalam, ada gemuruh yang kudengar dari dadamu. Meski kau tak pernah menangis secara jelas didepanku tapi kutahu kau diam-diam menahan tangis dihatimu. Semakin jauh kau melepas putrid kecilmu ini untuk menuntut ilmu. Melepas didepan rumah adalah hal yang ku mau agar kau tak repot-repot mengantarku. Aku tahu biayanya tak sedikit karena jaraknya juga semakin jauh, maka dengan kamandirian yang kau ajarkan aku urus semuanya sendiri hingga aku tiba di Jogja dan bisa berkuliah serta menjalani banyak aktivitas hingga detik ini. 

Dengan jarak yang semakin merajai, hanya bisa kudengar suaramu diujung pulau. Kukabarkan semua kesibukanku disini juga beberapa foto putri kecilmu yang semakin tumbuh dewasa ini. Tahukah Ayah, putri kecilmu sedang berjuang untuk membahagiakanmu. 

“Sejauh apapun sayap ini mengepak, pada akhirnya akan tetap kembali berpulang pada rumah yang ia tinggalkan untuk waktu yang tak terhitung.”

Ayah, terimakasih untuk segala hal yang begitu indah. Aku bahagia menjadi putri kecilmu. Seperti pesan-pesan indahmu, akan kusiapkan lagi kado spesial untukmu. Prestasi yang membanggakanmu juga mungkin lelaki yang tak kalah hebat darimu. Namun kau tetap pangeran di hatiku selamanya, Ayah. Tak akan tergantikan.

Putri kecilmu di tanah rantau selalu merindukanmu dan selalu mengirim doa terindah untuk kebaikanmu.

Ayah, terimakasih atas kemandirian dan ketangguhan dalam hidup yang kau ajarkan. Dengan itu semua putri kecilmu bisa tumbuh menjadi perempuan tangguh yang berkarakter dan selalu belajar menjadi shalehah dan cerdas. Seni seviyorum Ayah. :* :* 

Jogja, 30 April 2016.
Kutulis penuh cinta untuk lelaki idamanku; Ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar