Kamis, 22 Mei 2014

MAHKOTA AKHIRAT UNTUK AYAH DAN IBU



Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh….

Alhamdulillaah wasshalaatu wassalaamu ‘ala rasuulil amiin wa ‘ala aalihi washahbihi ajma’iin…

 Generasi Qur’ani

Gedung Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, Medan, Sumatra Utara. tampak dari belakang

Hidup dalam lingkungan pondok pesantren memberikan kesan dan pesan yang luar biasa. Salah satunya adalah dipertemukan dengan sosok yang luar biasa: Buya (Pimpinan pesantren), ustadz dan ustadzah, staff pekerja yang tak kan bisa disebut satu persatu, teman-teman baru, lingkungan baru dll. Semuanya serba baru tetapi sangat berkesan.
Selama pembelajaran banyak hal yang didapat baik dari segi ilmu keislaman serta ilmu umum. Bukankah dunia menjadi jalan najjah di akhirat nanti jika ditempuh dengan jalan yang benar dan halal?  Prinsip pribadi ialah genggam dunia di tangan, hujamkan akhirat dalam hati. Karena terkadang banyak yang lupa akan akhirat ketika sudah tenggelam dalam kesenangan dunia yang hanya bersifat sementara. Dalam Kitab Al-Waafii karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa,: “ Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhumaa berkata; Suatu saat Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi Wassalaam memegang pundakku sembari bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara.” Selanjutnya Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhumaa berkata,” jika engkau di waktu sore janganlah menunggu pagi hari, jika engkau di waktu pagi, janganlah engkau menunggu sore hari. Pergunakan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum matimu.”(Riwayat Al-Bukhari). Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab: Ar-Riqaq, Bab: sabda Nabi: Jadilah kamu didunia seakan-akan orang asing…”
Maka, seorang mukmin yang diibaratkan seperti orang asing atau pengembara, ia tak akan betah di dalamnya, ia tidak sibuk dengan perhiasannya dan tidak tertipu dengan kesenangannya. Dia bukan orang yang sibuk meraih dunia tetapi dunia baginya adalah hanya tempat untuk melintas menuju ke tempat yang kekal abadi. Seorang muslim senantiasa ingat bahwa ia di dunia hanya seperti seorang pengembara yang jauh dari negerinya sendiri, jauh dari keluarga. Maka ia akan selalu rindu kepada negeri dan keluarganya meskipun ia lama tinggal di negeri asing tersebut.  Dunia hanyalah sekejap bila dibandingkan dengan akhirat. “Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”(At-Taubah: 38).
Dalam mengarungi samudra ilmu di pondok pesantren banyak hal yang tak terduga. Hidayah Allaah menyapa begitu hangat. Sungguh indahnya hidup di lingkungan sosok-sosok yang luar biasa. Manisnya keimanan sangat terasa dengan ukhuwah islamiyyah karena Allaah semata.
Hidup di lingkungan pondok untuk belajar-beramal-mengajar. Berdakwah dengan berbagai bentuk. Dan setiap santri punya khasnya masing-masing. Teringat, waktu itu ketika duduk di bangku kelas 5 (setara dengan kelas 2 SMA) jabatan Qismul Ibadah dan Qismul Lughah di amanahkan kepadaku. Tak hanya fokus terhadap thalabul ‘ilmi sendiri tetapi ada juga yang namanya ‘pengabdian’ waktu itu. Salah satunya menyimak bacaan Al-Qur’an santri putri setiap ba’da maghrib dan jika sudah membaca wirid hadad berjamaah. Setelah mereka selesai setor bacaan Al-Qur’an maka dilanjut dengan setoran hafalan mereka. Biasanya ketika selesai menyetor, akan ada sharing keilmuan dan bahkan yang bersifat pribadi dari mereka. Moment yang paling ngangenin sekarang ini ketika berbagi semangat dengan mereka para genarasi Qur’ani. Semangat mereka menjadi hafidzah membuat bangga sekaligus mengharu biru. Karena ditengah-tengan ke-­modern-an era sekarang ini, masih ada pejuang-pejuang Allaah yang menghujamkan Ayatullaah dalam dada mereka.
Suatu malam, seperti rutinitas biasanya. Ketika sharing ada gadis kecil nan cantik jelita baik paras maupun akhlaqnya ia salah seorang santriwati yang sedang duduk di bangku kelas satu Tsanawiyyah (setara satu SMP) ia bertanya kepadaku: “Ukhti, bagaimana supaya hafalan yang sudah ada tetap terjaga dan bisa segera hufadz 30 juz? Karena ada yang pernah berkata. Jika kita menghafal Al-Qur’an 30 juz maka kita akan masuk surga Allaah dan boleh mengajak orang yang kita cintai ikut masuk surga bersama kita. Ana ingin Ayah dan Ibu masuk surga dengan hafalan Al-Qur’an ana, Ukhti.” Subhaanallaah, hati siapa yang tak kan tersentuh. Di usianya yang masih anak-anak ia sudah berpikir sedemikian rupa. Bahkan aku sendiri merasa disadarkan dengan pertanyaan gadis cilik itu. Maka dengan ketulusan dan kesungguhan hati kujawab pertanyaan tersebut. Bahwa untuk menjaga hafalan Al-Qur’an haruslah sering dimurajaah (diulang), dalam shalat sunnah bisa juga sembari mengulang ayat yang sudah dihafal. Ketika hendak mengkhatamkan 30 juz, maka harus rajin menghafal dan mengulang karena ujian terberat ketika menjaga dan hendak menambah hafalan adalah mengulang hafalan tersebut. Disamping juga harus menjaga lahir dan batin dari hal-hal yang dilarang Allaah. Karena maksiat kepada Allaah akan merusak hafalan Al-Qur’an. Dan yang paling penting juga niatkan semuanya karena Allaah, serta pengamalan kandungan Ayat Al-Qur’an yang sudah dihafal dalam keseharian. Karena Al-Qur’an adalah pedoman yakni petunjuk bagi umat sampai kapanpun.
Alangkah indahnya hidup kita, bila kita tidak hanya sekedar bisa membaca Al Quran, tetapi juga menghafalnya dan mengamalkannya. Banyak hadits Rasulullaah yang mendorong untuk menghafal Al-Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allaah. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh (HR. Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Penghafal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allaah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allaah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”  (HR. Tirmidzi, hadits hasan {2916}, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :
بِئسَمَا لِأَحَدِهِمْ أَنْ يَقُولَ: نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ، بَلْ نُسِّيَ. وَاسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنْ النَّعَمِ.
متفق عليه
Abdullaah ra berkata:Rasulullaah bersabda: Buruk sekali orang yang berkata : Aku lupa ayat ini dan ayat itu, akan tetapi (katakanlah) aku terlupakan. Dan (untuk itu) bermuzakarah (mengingat-ingat) Al-Qur’an-lah kalian, sesungguhnya Al-Qur’an itu lebih mudah terlepas dari dada seseorang daripada binatang ternak [Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no 4644 dan 4651) dan Muslim (hadis no. 1314-1317). Selain al-Bukhari dan Muslim, hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmizi (hadis no. 2466), al-Nasa'i (hadis no.934), dan al-Darimi (hadis no. 2627)].
Ada santriwati lain yang juga kadang mulai menurun semangatnya dalam menghafal Al-Qur’an. Jadwal yang seakan tiada henti selama 24 jam terkadang membuat mereka lelah. Namun, inilah perjuangan para Thalabul ‘Ilmi. Yang menarik mereka bisa langsung membenahi niat sehingga dalam menghafal A-Qur’an dan belajar merek menjadi lebih menikmati proses tersebut.
Pesan teruntuk adik didikku dikejauhan: “Tetap Istiqamah dan jangan pernah kenal lelah untuk berbuat baik salah satunya menuntut ilmu, mengahafal Al-Qur’an, dll. Nikmati masa-masa di Pondok Pesantren. Ketika kalian sudah selesai maka bawalah nama santri walaupun kalian sudah tak di Pondok Peantren lagi.”
 Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabaraaktuh....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar