Selasa, 02 Juni 2015

Seni Seviyorum...

Risalah Cinta…
--Ditambah sedikit bumbu penyedap, petuah Imam Al-Ghazali “Raudhah; Taman Jiwa Kaum Sufi”

Photo by Mr. Google

Cinta… Ibnu Arabi (Sufi dan pemikir Islam abad ke-12 dari Spanyol) pernah bertuah bahwa cinta itu tak punya defenisi.  Dalam risalah Futuhat ia juga menjelaskan, “Ia yang mendefenisikan cinta berarti tak mengenalnya… Sebab cinta adalah minum tanpa hilang haus.”, Ya memang betul juga. Karena setiap orang akan memiliki versi berbeda saat mengartikan cinta.   Lain halnya dengan Jalaluddin Rumi (Sufi yang paling  masyhur), “Cinta adalah laut-Ke-Tak-Ada-an.” Maka pantas saja cinta yang hanya sepatah kata namun sangat sulit untuk didefinisikan. Sehingga dalam ribuan masnawi dan diwannya, Jalaluddin Rumi hanya mengemukakannya dalam bentuk nagasi, bahwa cinta itu ibarat pohon yang tegak berdiri bukan diatas tanah atau diatas pokok, bahkan bukan pula di mahkota surga.

Tentu masih banyak lagi penggambaran tentang cinta oleh para pakar yang lainnya. Namun bukan itu yang menjadi pokok pembahasan disini. Substansinya lebih kepada seperti apa hakikat cinta yang sebenarnya itu.

Namun, jujur saja ini adalah bahasan yang menurutku pribadi sangat lah krusial. Bahkan cenderung sangat rawan jika dikaitkan dengan berbagai sisi lainnya. Ditambah lagi terkait usiaku yang masih sangat belia (kata orang kebanyakan) merasa belum pantas saja menulis hal seperti ini. Namun disudut yang lain, rasa ingin berbagi pengetahuan yang sedikit mendorong jari-jari mungilku untuk mengetik di keyboard laptop kesayanganku. Menjadikan apa yang kutulis sebagai ladang dakwahku untuk menanam benih-benih pahala yang semoga berbuah syurga. Aamiin..

Nah, berbicara cinta. Seperti salam pembuka diawal cerita, bahwa cinta tak punya defenisi. I agree. Seperti hasil buah pikirku sendiri, bahwa cinta tak terdefinisi namun ia tumbuh dan berkembang, memenuhi dan bertengger manis dijiwa-jiwa manusia sebagai makhluk yang dha’if dan sangat butuh akan segala kasih juga sayang dari Tuhannya sebagai tempat segala bermuara. 

Coba perhatikan, saat diusia kanak-kanak cinta adalah saat ayah dan ibu selalu ada bersama kita; menatap setiap tumbuh-kembang kita. Namun menginjak diusia remaja, cinta mulai berubah. Cinta bukan lagi antara anak dengan ayah dan ibunya tetapi cinta sudah lebih kepada cinta monyet bin semu bin palsu dan bin-bin yang lain, hehe. Meski tetap ada saja, anak yang sudah mulai tumbuh dengan cinta hanya pada ayah dan ibu serta Tuhan Sang Pencipta. Lanjut. Beranjak dewasa, cinta itu semakin tumbuh dan berkembang menjadi cinta kepada yang bukan mahramnya; lawan jenis. Nah, disini cinta bukan lagi sekedar saling bertemu, mengobrol, atau bahkan jadi bahan candaan teman-teman lainnya, seperti masa kanak-kanak. Cinta sudah lebih kepada perasaan. Rasa ingin saling melindungi; rasa ingin terus bersama; rasa yang sudah lupa akan segala titik noda akan pasangannya; rasa yang sudah melebihi rasa cintanya pada Sang Khaliq sebagai Sang Maha Cinta. Astaghfirullah… Terkadang saat rasa kagum + suka + cinta sudah mendera, manusia sebagai makhluk lupa akan titah-titah Tuhannya. Semoga pembaca yang budiman tidak termasuk ya. Semoga pembaca yang budiman selalu diberkahi dan dilindungi dari segala mara bahaya.

Allah Maha Cinta. Ya, adanya alam semesta dengan segala hal didalam dan diluarnya adalah bentuk luapan cinta pun juga kasih sayang Sang Khaliq. Jadi benar adanya, bahwa pada dasarnya alam tercipta karena cinta; penggeraknya adalah cinta; pengikatnya adalah cinta; tujuan-akhirnya pun adalah cinta. 

Allah memiliki sifat rahman dan rahim yang diterjemahkan secara umum sebagai Yang Maha Pemurah dan Yang Maha Penyayang. Akan tetapi, kata rahmah dalam bahasa Arab memiliki konotasi yang sangat luas, komprehensif, yakni cinta, kasih, berkah, dan makna lain yang serumpun. Dan dalam Al-Qur’an ada kata yang menunjukkan cinta dengan kata wudd.

Sesungguhnya mereka yang percaya dan melakukan hal-hal yang baik, Yang Pemurah akan menentukan bagi mereka cinta. (QS. Maryam [19]: 96)

Tentu masih banyak penyebutan cinta yang lainnya didalam Al-Qur’an, bukan hanya sebatas contoh diatas. Jadi pada dasarnya cinta adalah sifat hakiki Allah. Maka Ibn ‘Arabi menyatakan, “Tidak ada hadis yang disampaikan oleh para Nabi-Nya yang mengisyaratkan Keagungan yang tanpa disertai oleh sesuatu dari keindahan untuk menyeimbangkannya.” Namun tetap bertindak adil dan murka, ini semata merupakan manifestasi dari cinta dan belas kasih-Nya. Ini adalah Sifat Pemeliharaan-Nya (Rububiyah) atas manusia dan alam semesta.

Cinta Allah, Cinta Manusia.  Pernah suatu ketika seorang wanita shalehah yang menjadi pelayan di sebuah rumah menunaikan shalat malam seperti malam-malam biasanya. Kali ini tanpa sengaja sang majikan mendengar doa-doa yang ia lantunkan pada Tuhannya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan cinta-Mu kepadaku agar Engkau memuliakanku dengan bertambahnya ketakwaan dihatiku dan seterusnya.” Usai shalat. Sang majikan bertanya,Dari mana engkau tahu kalau Tuhan mencintaimu? Kenapa tidak kau katakana saja, Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan cintaku kepada-Mu?” Lantas si pelayan menjawab, “Wahai tuanku, jika bukan karena cinta-Nya kepadaku. Mana mungkin aku mampu berdiri tegak menunaikan shalat disetiap malam dan melantunkan munajat kepada-Nya. Karena pada dasarnya Dia yang menggerakkanku untuk terjaga dengan ibadah malam kepada-Nya.”

Sungguh cinta kasih antara Tuhan dengan manusia persis seperti hubungan perindu dengan yang dirindui (‘asyiq dan ma’syuq).

“Orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah. (QS. Al-Baqarah [2]: 165).

“Seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan menyelenggarakan ibadah-ibadah yang Aku wajibkan atasnya. Kemudian, ia terus mendekat kepada-Ku dengan (menambah ibadahnya) dengan berbagai amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Maka, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, tangannya untuk memegang, kakinya untuk berjalan, hatinya untuk berpikir, dan lidahnya untuk berbicara; jika ia memanggil-Ku, Aku akan menjawabnya; jika ia meminta kepada-Ku, Aku memberinya..” (Hadis Qudsi yang terkenal dikalangan Sufi).

Jadi hakikatnya, orang yang mencinta sangat butuh kepada orang yang dicintainya sehingga apapun cara akan dilakukan untuk menyenangkan orang yang dicintainya. Nah, begitu pulalah semestinya. Setiap manusia rindu berhubungan dengan Allah dengan penuh kecintaan sejati. Manusia kepada Allah, Allah kepada manusia. Sehingga dengan mujahadah (pembersihan hati dari nafsu duniawi), lebur (fana’) dan tinggal tetap (baqa’) menyatu dengan-Nya menjadi puncak dari seluruh perjalanan spiritual manusia.

Muhammad Nabi Cinta. Hadits takhallaqu bi akhlaq Allah (berakhlak dengan akhlak Allah) sesuai dengan Nabi Muhammad sebagai puncak manifestasi dari akhlak Allah. Hingga suatu ketika pernah Siti ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, dan ia menjawab, “Akhlak rasulullah adalah Al-Qur’an.” Nabi Muhammad memang lah Yang paling pertama kali diciptakan oleh Allah dengan menciptakan (Nur) Muhammad. Sehingga karena cinta-Nya itu pula alam semesta ini tercipta. Bahkan Allah bersama para malaikatnya senantiasa bershalawat kepada Rasulullah. Kemudian perintah bershalawat juga turun kepada orang-orang beriman.

Kesempurnaan Nabi tampak lebih jelas dalam firman-Nya:

Sungguh engkau (Muhammad) berada diatas akhlak yang agung. (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Bukan hanya sebatas menjadi yang dicintai. Nabi jugalah pecinta. Itu semakin tampak jelas saat dipenghujung kepulangannya menghadap Allah.

Umatku.. umatku.. umatku.. Apa yang akan terjadi atas mereka sepeninggalku.” Saat itu tentu saja semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun lain halnya dengan junjungan kita Nabi Muhammad saw masih memikirkan umatnya. Dan nanti di akhirat, Nabi berdiri diatas bukit, berseru kesana-kemari, “Halluma-halluma.. kesinilah kalian, datanglah kepadaku agar kalian semua mendapat syafaatku. Terhindar dari hukuman-Nya, dan masuk surga semua saja.”

Maka, jika kita mencintainya itu berarti kita mencintai Allah. Persis seperti titah Tuhan yang diajarkan kepadanya, “ Barangsiapa mencintai Allah, ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kalian…”

Tali Cinta Manusia. Secara umum ini lebih dikenal dengan istilah silaturrahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim adalah kasih sayang. Jadi intinya adalah menyambung kasin sayang antar sesama tanpa membedakan satu dengan lainnya. Karena dihadapan Tuhan semua sama, kecuali ketakwaan. Hingga dalam suatu hadits dikatakan bahwa, jika kita menjalin silaturrahim Allah akan menyambungkan dengannya. Namun jika kita putuskan silaturrahim maka Allah akan putuskan hubungan dengannya. Silaturrahim itu saling menolong dan memberi satu dengan lainnya tanpa menuntut balasan. Sehingga jika ada cinta antar keduanya, tentu ia akan lebih mengutamakan kebutuhan yang dicintainya daripada dirinya sendiri. Satu hal lagi yang perlu diketahui, bahwa jika berbuat baik antar sesama manusia maka cinta dari-Nya akan menyapa. Seperti perkataan Nabi, “Sesungguhnya umat manusia adalah kerabat Allah. Maka barangsiapa mencintai Allah, dia akan mencintai kerabatnya.” 

Cinta Lelaki-Perempuan. Allah telah menciptakan manusia denga fitrah kecintaannya. Seperti fitrah cinta terhadap lawan jenisnya. Dari sini akan ditemui juga istilah jodoh sebagai separuh agama. Ini berarti agama belum genap jika belum bertemu dengan penggenapnya. Jika belum bertemu tentu ini akan membuat rindu untuk segera bertemu dengan penggenap separuh agamanya. Nah, perumpamaan itu harusnya menjadi pengingat yang harus dihadirkan dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Bahwa Tuhan telah meniupkan Ruh-Nya dalam diri manusia, bukankah ruh itu bagian dari Diri-Nya? Seperti tetesan air; baik air sungai, air hujan, air embun. Mereka tetap selalu rindu untuk kembali ke laut, sumbernya. Hingga entah bagaimanapun keping-keping cinta berserakan, tetap saja hanya ada satu tempat untuk melabuhkan cinta yang hakiki, Allah swt.  Hingga cinta lelaki-perempuan bukan lagi sekedar penyalur syahwat yang terbingkai syari’ah (menikah) namun lebih kapada pengingat manusia akan hubungan penuh kecintaan dengan Sang Khaliq Sang Maha Cinta. 

Huuufffttt… Terlalu panjang ya? Ya karena saya rasa perlu sedikit diperinci walau memang belum terlalu gamblang penjelasan tentang cinta itu sendiri.

 Jadi memang, cinta yang benar-benar cinta adalah yang ditautkan pada Allah, Sang Maha Cinta. Cinta yang benar adanya. Dan jika tetap dijaga, Insya Allah berbuah syurga Allah yang tiada dua.
Tidak ada cinta melalui pacaran dan lain sebagainya. Yang ada cinta suci-murni kepada-Nya. Cinta yang ditempuh dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 

Pacaran. Ini perbincangan yang lagi-lagi sangat krusial menurutku. Karena yang tak sependapat mungkin akan berpikir kuper; tidak gaul; atau bahkan terlalu fanatis. Yang pasti, visi misi tetap sama, bahwa inilah bentuk kepedulianku akan masa depan kita semua  yang akan jauh lebih baik tanpa melalui fase yang tak disukai oleh-Nya. Namun jalan terpilih yang  ditempuh adalah dengan meniti ridha-Nya. 

Jika ditinjau lebih jauh. Belum ada manfaat yang berhasil kutemukan, baik dari hasil menuntut ilmu maupun penelitian secara lebih ilmiah tentang ‘pacaran’. Namun sedikit yang kutahu, bukan hanya lahir yang mengalami kantong kering; sakit merindu; waktu terbuang untuk pertemuan sia-sia pun juga tak menentu; janji-janji manis yang berujung tragis; hati yang luka miris; kecewa pada yang bukan tempatnya; bahkan cinta yang tumbuh melebihi cinta pada Rabb, Sang Penciptanya. Ini tentu sudah membahayakan. 

Duh jadi ingat pesan Ibu, suatu ketika, “Belajar yang serius ya. Jangan pacaran. Kalau masalah jodoh nanti saja. Doa ibu selalu menyertaimu semoga kelak disandingkan dengan yang shaleh pun juga si berada yang suka berderma.”

Lain halnya dengan Ayah, “Belajar yang sungguh-sungguh. Berpendidikan setinggi-tingginya. Buat ayah dan ibu bangga. Jadilah anak yang cerdas supaya bisa berbakti pada keluarga, nusa, bangsa, dan agama.”

Atau pesan singkat abang, “Fokus belajar saja. Nikmati masa belajar dan berjuang bersama  kawan. Masalah jodoh nantilah itu. Banyak lagi pilihan.”

Jika pesan kakak, “Fokus belajar dulu, dinda. Perjalanan masih panjang. Masih banyak mimpi yang harus dicapai. Berpendidikan setinggi-tingginya dulu walau nanti ujung-ujungnya ke dapur juga namun akan berbeda antara wanita yang berpendidikan dengan yang tidak berpendidikan saat di dapur. Tetap istiqamah jaga marwah dimana pun.”

Bahkan pesan sahabat-sahabat terbaik, “Mimpi kita. Negeri lima menara.”

Yah begitulah. Cinta yang terbingkai dan ditujukan kepada Rabb lah yang paling menjanjikan. Dengan cinta yang tertaut kepada-Nya tentu kita berusaha untuk tidak membuat-Nya cemburu; marah; merasa diduakan; dan lain sebagainya. Kita mencoba mati-matian untuk membuat-Nya senang; tidak diduakan apalagi ditigakan, diempatkan dan seterusnya.

Jadi teringat pesan dosen juga, “Dimadu saja enggak mau, apalagi diracun.” Eh? Kok jadi kesini hehe #intermeso :D

Jadi, dimasa muda yang penuh pancaroba ini, alangkah baiknya kita manfaatkan waktu untuk terus berbenah diri, mengukir prestasi, wujudkan segala mimpi, fokus pada masa belajar, nikmati masa berjuang bersama kawan, cari pengalaman sebanyak-banyaknya, cari ilmu sedalam-dalamnya. Kelak ada saatnya kontribusi dan inspirasi kita menjadi penyemangat anak bangsa yang lainnya. Seperti kata bijak bapak BJ. Habibi, “Kalau bukan kita siapa lagi.” Jelasnya, kalau bukan anak negeri sendiri yang bergerak untuk membenahi bangsa, siapa lagi?. 

Kerenkan dan mantapkan diri bukan hanya dihadapan Tuhan tetapi juga agar bisa bermanfaat bagi keluarga, nusa, bangsa, dan agama.  Nah ini dia intinya; jika kita sudah mengecap manis dengan segala hasil jerih payah dalam memantapkan diri, maka yang namanya ‘jodoh’ akan datang dengan sendirinya. Atau kita yang mendatangi? Eh hehehe…

#Salam hangat… :) :)

Yogyakarta, 02 Juni 2015.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar